Rabu, 12 Desember 2012

perkembangan islam di timur bagdad




PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN ISLAM PADA MASA
PEMERINTAHAN DINASTI-DINASTI KECIL DI TIMUR BAGHDAD

Makalah Ini Ditulis untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Sejarah dan Kebudayaan Islam

Dosen Pengampu Murodi,MA

 Makalah Disusun oleh:

1.   DEDE WAHYUDIN
2.   DELVIA MEGASARI


Description: http://3.bp.blogspot.com/_OabDgXNpBao/TEtHE1W-MII/AAAAAAAAAIU/LZK8zjSKp5o/s1600/Logo+UIN.jpg










PROGRAM PENDIDIKAN PROPESI GURU
UIN JAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2012/2013







KATA PENGANTAR

            Alhamdulillah puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT yang masih memberikan nafas kehidupan, sehingga penulis dapat menyelesaikan pembuatan makalah dengan judul Dinasti-Dinasti Kecil Di Timur Baghdad dengan tepat waktu. Tidak lupa shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang merupakan inspirator terbesar dalam segala keteladanannya. Tidak lupa penulis sampaikan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Sejarah Kebudayaan Islam yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam pembuatan makalah ini.           
Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas kelompok mata kuliah Sejarah Kebudayaan Islam dan dipresentasikan dalam pembelajaran di kelas. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai 3 sub pokok bahasan yaitu: Dinasti Thahiriyah, Dinasti Shaffariyah, dan Dinasti Samaniyah. Makalah ini dianjurkan untuk dibaca oleh semua mahasiswa pada umumnya sebagai penambah pengetahuan dan pemahaman sejarah kebudayaan islam di masa lampau.
            Akhirnya penulis sampaikan terima kasih atas perhatiannya terhadap makalah ini, dan penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi tim penulis khususnya dan pembaca yang budiman pada umumnya. Tak ada gading yang tak retak, begitulah adanya makalah ini. Dengan segala kerendahan hati, saran-saran dan kritik yang konstruktif sangat penulis harapkan dari para pembaca guna peningkatan pembuatan makalah pada tugas yang lain dan pada waktu mendatang.




















DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I.  PENDAHULUAN
BAB II. PEMBAHASAN
  1. Dinasti-Dinasti Kecil Di Timur Baghdad
1.       Dinasti Thahiriyah ( 205-259 H / 820-872 M)
2.       Dinasti Shaffariyah (254 – 290 H / 867 – 903 M)
3.       Dinasti Samaniyah (261 – 389 H / 874 – 999 M)
B.     Kemajuan Ilmu Pengetahun
C.     Kondisi Sosial, Politik, Dan Ekonomi Dinasti-Dinasti Kecil Di Timur
BAB III. KESIMPULAN
BAB IV. PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA















BAB I. PENDAHULUAN

            Sudah merupakan sunnatullah bahwa pada setiap ummat manusia akan selalu ada masa kebangkitan,  perkembangan, kejayaan juga kemunduran bahkan kejatuhan pada setiap gelombang kekuasaan politik. Hal ini terkait erat diantaranya dengan kinerja sang penguasa itu dalam menjalankan roda kekuasaannya. Kenyataan ini tak bisa dibantah karena tampaknya ada semacam korelasi positif antara sumber daya penguasa dengan kemampuan mempertahankan, mengembangkan dan memajukan pemerintahan.
            Menurut para pakar sejarah Islam, Daulah Abbasiyah ( 750-1258 M ) telah berjasa dalam memajukan umat Islam. Hal ini ditandai dengan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, peradaban, kesenian, dan filsafat. Data monumental dari daulah abbasiyah, yaitu berdirinya kota baghdad yang megah, kota yang didirikan atas prakarsa raja-raja dinasti ini. Menurut Philip K. Hitti, kota Baghdad merupakan kota terindah yang dialiri sungai dan benteng-benteng yang kuat serta pertahanan militer yang cukup kuat[1]). Sekalipun demikian, dinasti ini tidak mampu mempertahankan integritas negerinya, karena setelah khalifah Harun Ar-Rasyid, daerah kekuasaan dinasti ini mulai goyah, baik daerah yang ada di bagian barat maupun yang ada di bagian timur baghdad. Di bagian timur, menurut J.J. Saunder berdiri dinasti-dinasti kecil, yaitu Thahiriyah, Saffariyah, dan Samaniyah[2]).
            Adapun faktor-faktor yang mendorong berdirinya dinasti-dinasti kecil ini, yaitu adanya persaingan jabatan khalifah di antara keluarga raja dan munculnya sikap ashabiyah antara keturunan Arab dan non-Arab, tepatnya persaingan Arab dan Persia[3]).













BAB II. PEMBAHASAN

A.  DINASTI-DINASTI KECIL DI TIMUR BAGHDAD
1.    Dinasti Thahiriyah ( 200-259 H / 820-872 M)
Dinasti ini didirikan oleh Thahir bin Husein seorang yang bearasal dari persia, di Khurasan dengan Nishapur sebagai ibu kotanya[4]). dan ia merupakan keluarga pertama di timur yang memperoleh kekuasaan semacam otonomi. Thahir memperoleh kekuasaan setelah mengabdi pada kholifah al-Makmun sebagai jenderal atau panglima perang. Awalnya ia membantu al-Makmun dalam merebut kekuasaan dari al-Amin, saudara seayahnya. Perebutan kekuasaan antara al-Amin dan al-Makmun ini dilatarbelakangi dan diperhebat oleh persaingan antara golongan Arab dan Persia pada masa al-Makmun dan masa sebelumnya.
              Pada mulanya Al-Ma’mun memberikan kesempatan kepada Thahir untuk memegang jabatan gubernur di Mesir pada tahun 205 H, kemudian dipercaya juga untuk mengendalikan wilayah timur. Pada masa al-Makmun ia termasuk orang-orang yang diuntungkan, karena pada masa ini orang-orang Persia diberi kedudukan lebih kuat dari pada orang-orang Arab. Perluasan wilayah Islam pun semakin pesat. Pembauran antara orang-orang Arab dan orang-orang Persia serta para bekas pemeluk agama lain berlangsung dengan baik[5]).
            Karena keberhasilan Thahir dalam memimpin pasukan perangnya itulah al-Makmun kemudian menghadiahkan kepadanya untuk menjadi gubernur atau amir di daerah sebelah timur Baghdad pada tahun 820 M[6]). Pada tahun ini pula secara resmi dijadikan sebagai awal berdirinya dinasti Thahiriyah.
            Dinasti Thahiriyah menguasai wilayah Khurasan yang sangat luas (terletak di sebelah timur laut Iran) juga menguasai wilayah Transoxiana (wilayah subur yang terletak antara sungai Sir Darya dan sungai Amu Darya yang berhulu pada laut Ural, tempat kediaman suku-suku Turki yang terkenal gagah berani[7]). Sejak didirikannya dinasti Thahiriyah ini mulailah di Iran timbul kekuasaan yang berdiri sendiiri. Akan tetapi dinasti ini masih mematuhi dan
menjalin hubungan baik, mereka masih menyetor pajak dan upeti kepada kholifah di Baghdad[8]). Lagi pula hubungan ini ditunjang oleh pengiriman utusan setiap saat ditambah adanya anggota keluarga bani Thahir yang merangkap menjadi kepala kepolisian di Baghdad.
            Setelah Thahir wafat (822 M), kekuasaan dinasti dilanjutkan oleh anaknya, Thalhah. Ia memegang kendali dinasti Thahiriyah selama enam tahun yaitu 822-828 M. Kemudian kekuasaannya dilanjutkan oleh saudaranya yang bernama Abdullah bin Thahir yang memerintah dari tahun 828-844 M. Di masa Abdullah ini hubungan dengan Baghdad terjalin dengan baik sehingga kholifah memberi tambahan kekuasaan yakni wilayah Mesir. Para pengganti Thahir ini mampu mengembangkan wilayah kekuasaannya hengga perbatasan India.
            Dan pada tahun 213 H, wilayah kekuasaan Abdullah Ibn Thahir dikurangi dan Al-Ma’mun menyerahkan Suriah, Mesir, dan Jazirah kepada saudaranyanya sendiri, yaitu Ishak Ibn Harun Ar-Rasyid[9]). Hal ini dilakukan oleh Al-Ma’mun setelah ia menguji kesetiaan Abdullah Ibn Thahir, yang diketahui ternyata cenderung memihak kepada keturunan Ali Ibn Abi Thalib[10]).
            Sesudah Abdullah Ibn Thahir, jabatan gubernur Khurasan dipegang oleh saudaranya, yaitu Muhammad Ibn Thahir ( 248-259 H ). Ia merupakan gubernur terakhir dari keluarga Thahiri. Kemudian daerah Khurasan diambil alih oleh keluarga Saffari melalui perjuangan senjata. Keluarga Saffari merupakan saingan keluarga Thahiri di Sijistan[11]).
            Berdirinya dinasti Thahiriyah yang terlepas dari Baghdad ini pada kenyataannya sangat berpengaruh pada kekuasaan politik dinasti Abbasiyah yang terpusat di Baghdad. Kemenangan-kemenangan militer dinasti Abbasiyah selama ini terutama adalah berkat pasukan yang disuplai dari Khurasan. Selama setengah abad mereka khalifah di Baghdad terus bergantung pada tentara-tentara terlatih tersebut. Dengan adanya otonomisasi Khurasan yang terjadi pada tahun 820 M membuat Baghdad kehilangan asset militernya yang sangat berharga. Untuk mengantisipasinya, khalifah di Baghdad kemudian mulai merekrut orang-orang Turki sebagai bagian utama dari kekuatan militer baru dinasti Abbasiyah[12]).
            Akan tetapi, ketika Dinasti Thahiri di Khurasan mendekati masa kemunduran, tampaknya keluarga Abbasiyah menunjukan perubahan sikap. Mereka mengalihkan perhatiannya kepada keluarga Saffari yang mulai menggerogoti dan melancarkan gerakan untuk menguasai Khurasan[13]).
            Para ahli sejarah mengakui bahwa pada zaman Thahiri, dinasti ini telah memberikan sumbangan dalam memajukan ekonomi, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan dunia Islam. Pada masa itu, negeri Khurasan dalam keadaan makmur dengan pertumbuhan ekonomi yang baik[14]).

2.    Dinasti Shaffariyah (254 – 290 H / 867 – 903 M)
Philip K. Hitti mengatakan bahwa Dinasti Shaffari didirikan oleh Ya’qub bin al-Laits al-Shaffar, Dinasti ini lebih singkat jika dibandingkan dengan Dinasti Thahiriyah. Dinasti ini hanya bertahan selama 21 tahun. Ia berasal dari keluarga perajin tembaga dan semenjak kecil bekerja di perusahaan orang tuanya. Keluarga ini berasal dari Sijistan[15]). Selain ahli dalam bidang ini, ia juga di kenal gemar merampok, tetapi dermawan terhadap fakir miskin[16]).
Menurut Boswort, sekalipun singkat, kelompok Shaffariyah ini memiliki kekuasaan yang cukup luas dan megah[17]). Pada waktu itu Ya’kub mendapat simpati dari pemerintah Sijistan karena dinilai memiliki kesopanan dan keberanian. Oleh karena itu, Ya’kub ditunjuk untuk memimpin pasukan memerangi pembangkang terhadap Daulah Abbasiyah di bagian timur, khusunya di Sijistan, ia berhasil mengalahkan para pembangkang dalam waktu relatif singkat. Akhirnya ia berjalan sendiri tanpa menghiraukan perintah baghdad setelah ia menjabat Amir di Khurasan. Selanjutnya, menguasai kota Harat dan Busang. Setelah berhasil mengusir tentara Thahiriyah, akhirnya ia menjadi pemimpin di daerah itu[18]). Ya’kub juga menaklukan sisa-sisa kekuasaan yang pernah di kuasai oleh Thahiriyah yang masih setia di Khurasan sehingga kekuasaannya semakin luas dan mantap[19]).
Shaffariyah juga dikenal sebagai dinasti yang dipimpin oleh rakyat jelata, dan perilaku mereka seperti bandit dan yang menjadi elemen-elemen mereka juga tokoh-tokoh radikal.
Ya’kub menjadi pemimpin dinastinya kurang lebih sebelas tahun. Setelah ia meninggal pada tahun 878 M, kepemimpinannya diserahkan kepada saudaranya, Amr Ibn Al-Laits. Sikap Amr ini tidak keras seperti saudaranya, Ya’kub, bahkan sebelum ia diangkat menggantikan Ya’kub, ia telah mengirimkan surat kepada pemerintahan Baghdad yang intinya akan mengikuti semua petunjuk yang diberikan oleh Baghdad pada daerahnya. Dengan demikian, pengangkatan Amr pun mendapat sokongan dari Baghdad[20]).
Pada saat khalifah Baghdad dipegang oleh Al-Mu’tadid, Baghdad tetap mengakui kekuasaan Amr, sekalipun mendapat prerlawanan dari kalangan istana. Pembesar istana menahan Amr, kemudiaan memberikan kekuasaan kepada cucunya, Thahir Ibn Muhammad Ibn Amr. Setelah Thahir Ibn Muhammad Ibn Amr, kekuasaan diberikan kepada saudaranya Al-Laits Ibn Ali Ibn Al-Laits, tetapi khlifah ini berhadapan dengan As-Sabakri, yaitu pembantu Amr Ibn Al-Laits. Pada saat inilah terjadi perebutan kekuasaan dan berakhirlah riwayat Dinasti Shaffariyah.
           
3.    Dinasti Samaniyah (261 – 389 H / 874 – 999 M)
            Dinasti ini didirikan oleh Bani Saman yang telah berhasil menggeser dan menggantikan dinasti Shaffariyah. Pendirinya adalah keturunan dari seorang tuan tanah bernama Saman Khuda di daerah Balkh (Bactra) yang mulanya menganut Zoroaster lalu memeluk Islam di masa Hisyam bin Abdul Malik menjadi penguasa dinasti Umayyah (105-124 H).
Berdirinya dinasti ini bermula dari pengangkatan empat orang cucu Saman oleh Khalifah Al-Ma’mun menjadi gubernur di daerah Samarkand, Pirghana, Shash, dan Harat[21]). Adapun ke empat orang cucunya tersebut adalah Nuh bin Asad diangkat menjadi gubernur di Samarkand. Lalu Ahmad bin Asad ditunjuk menjadi gubernur di Farghanah, sedangkan Yahya bin Asad dipercaya menjadi gubernur untuk wilayah Syas dan Asyrusnah dan Ilyas bin Asad memangku jabatan gubernur wilayah Heart. Ke empat gubernur bani Saman ini menduduki wilayah bagian Transoxiana di bawah kekuasaan Tahir bin Husein (dinasti Thahiriyah).
Selain mempunyai hasrat untuk menguasai wilayah yang diberikan khalifah kepada mereka, kekempat cucu tersebut juga mendapat simpati warga Persia, Iran. Awalnya simpati mereka itu hanya di kota-kota kekuasaannya, kemudian menyebar ke seluruh negeri Iran, termasuk Sijistan, Karman, Jurjan, Ar-Ray, dan Tabanistan, ditambah lagi daerah Transoxiana di Khurasan[22]).
Tegaknya Dinasti Samaniyah ini bisa jadi merupakan manisfestasi dari hasrat masyarakat Iran pada waktu itu. Adapun pelopor yang pertama kali memproklamasikan Dinasti Samaniyah ini, sebagai mana penjelasan Philip K. Hitti adalah Nasr Ibn Ahmad ( 874 M ), cucu tertua dari keturunan Samaniyah, bangsawan Balk Zoroasterian, dan di cetuskan di Transoxiana[23]).
            Ismail bin Ahmad adalah penerus Nashr yang mengendalikan dinasti nin sejak tahun 892-907 M. Pada tahun 900, ia berhasil merebut wilayah Khurasan yang masih dalam kekuasaan Amr bin al-Laits (Bani Shaffari[24]). Penguasa ketiga dari dinasti ini adalah Ahmad bin Ismail (907-913) seorang pemberani yang berhasil menaklukan Sijistan. Pengganti selanjutnya adalah Nashr II bin Ahmad (913-943). Di bawah kepemimpinannya wilayah Karman, Jurjan, al-Rayy dan Tabaristan berhasil di kuasai[25]).
            Penguasa dari dinasti Samaniyah selanjutnya adalah putra dari Nashr II yaitu Nuh I (942-954). Dia adalah penguasa dinasti Samaniyah yang pertama kali berprilaku sangat kejam. Ia mencukil kedua mata saudaranya dan pamannya yaitu Ibrahim. Para penerus dinasti ini secara berturut-turut adalah sebagai berikut:
            > Abdul Malik I bin Nuh   tahun 954-961
            > Manshur I bin Nuh          tahun 961-976
            > Nuh II bin Manshur         tahun 976-997
            > Manshur II bin Nuh II      tahun 997-999
            > Abdul Malik II bin Nuh II tahun 999[26]
            Setelah mencapai puncak kegemilangannya bagi bangsa Persi ( Iran ), semangat kesukuan pun cukup tinggi pada dinasti ini. Oleh karena itu, ketika banyak imigran turki yang menduduki posisi pemerintahan, para imigaran turki tersebut dicopot karena faktor kesukuan. Akibat ulahnya ini, Dinasti Samaniyah mengalami kehancuran, karena mendapat penyerangan dari bangsa Turki. Dengan keruntuhannya ini, tumbuh dinasti kecil baru, yaitu Dinasti Al-Ghaznawi yang terletak di India dan di Turki[27]).
            Dinasti Samaniyah habis tenggelam di tangan Abdul Malik II bin Nuh II yang sewaktu dinobatkan menjadi amir masih di bawah umur, sedangkan musuh yang dihadapinya sangat kuat yaitu Sultan Mahmud Ghaznawi (berkebangsaan Turki). Seluruh kekuasaannya jatuh dan berpindah tangan pada dinasti Ghaznawi. Beberapa penyebab jatuhnya dinasti Samaniyah adalah :
  1. Perselisihan dikalangan keluarga bani Saman
  2. Panglima dan pejabat banyak yang membelot dan melakukan penghianatan
  3. Adanya campur tangan kaum wanita dan wazir yang sangat berlebihan.
Dinasti Samaniyah juga telah berhasil menciptakan kota Bukhara sebagai kota budaya dan kota ilmu pengetahuan yang terkenal di seluruh dunia, karena selain Ibnu Sina, muncul juga para pujangga dan ilmuwan yang terkenal, seperti Al-Firdausi, Ummar Kayam, Al-Biruni, dan Zakaria Ar-Razi[28]

B.  KEMAJUAN ILMU PENGETAHUAN
Berakhirnya dinasti Samaniayah di Transoxiana dengan Bukhara sebagai ibu kotanya serta Samarkand sebagai kota utamanya sangat berpengaruh pada diterapkannya ajaran-ajaran Islam. Kedua kota ini sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan, hamper-hampir menyamai kebesaran kota Baghdad. Tidak hanya para ilmuwan Arab, ilmuwan Persia pun mendapat perlindunagn dan dukungan dari pemerintah untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
Tidak hanya berhenti sampai di situ, ilmu kedokteran, ilmu falak serta filsafat juga mengalami kemajuan dengan disusun dan direkonstruksi serta diterjemahkan bahasa Persia ke bahasa Asab. Diantara beberapa literature di bidang kedokteran yang terkenal masa itu adalah buku al-Manshury yang dikarang oleh Abu Bakr al-Razzi. Pada masa ini muncul pula filosof muda belia yakni Ibnu Shina yang berhasil mengobati Amir Nuh bin Mansur pada saat Ibnu Sina berusia delapan belas tahun. Di bidang kesusasteraan muncul al-Firdawsi (934-1020) yang menulis sajak-sajaknya. Tercatat juga dalam sejarah seorang wazir pada pemerintahan al-Manshur I bin Nuh (961-976) yang bernama Bal’ami. Ia menerjemahkan Mukhtasar al-Thabari. Bahkan perpustakaan milik dinasti Samaniyah yang berada di Bukhara memiliki berbagai koleksi buku yang tidak dijumpai di tempat lain[29]). Begitu tingginya peradaban umat manusia di masa dinasti Samaniyah ini terlebih lagi bila dibandingkan dengan keadaan peradaban yang terjadi pada kedua dinasti sebelumnya. Tidak hanya dalam bidang sains dan filsafat yang berkembang dimasa ini tetapi juga dalam bidang ilmu-ilmu keislaman.

C.  KONDISI SOSIAL, POLITIK, DAN EKONOMI DINASTI-DINASTI KECIL DI TIMUR
Sebagian besar dinasti kecil yang tumbuh di timur adalah keturunan parsi. Meskipun secara politik tidak menimbulkan kesulitan bagi pemerintahan pusat di baghdad, dari segi budaya memberikan corak perkembangan yang baru, yaitu kebangkitan kembali nasionalisme dan kejayaan bangsa Iran lama[30]).
Masuknya orang-orang Iran ke dalam elit kekuasaan pada masa Bani Abbas yang di mulai dari keluarga Al-Barmark pada masa Harun Ar-Rasyid telah memberikan semangat terpendam yang merupakan cikal bakal kebangkitan Iran baru yang berjiwa islam. Walaupun di sana-sini timbul pertentangan antara orang-orang yang masih mempertahankan dominasi dan nasionalisme arab dikalangan keluarga khalifah dengan pihak yang telah beradaftasi dengan kebudayaan Iran, hal itu tidak menghalangi proses lebih lanjut bagi perluasan pengaruh Iran dalam dunia Islam pada saat itu.Meskipun dinasti-dinasti kecil itu merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Dinasti Abbasiyah, namun dalam proses pemerintahan bersifat otonomi penuh.
Adapun manfaat adanya dinasti-dinasti kecil di timur tersebut, bukan saja dirasakan oleh Dinasti Abbasiyah sebagai penunjang kejayaan Bani Abbas, melainkan juga bagi dinasti-dinasti kecil karena dapat terus berusaha memperluas daerah kekuasaan mereka, sehingga ke utara memasuki jantung Asia maupun ke timur menembus wilayah India. Dilihat dari perkembangan sosial ekonomi, munculnya dinasti-dinasti kecil tersebut memunculkan kota-kota pusat kegiatan ekonomi.
Sebagai penutup dan bahan perbandingan, jika pada masa dinasti Umawiyah, wilayah kekuasaannya masih merupakan kesatuan yang utuh, yakni suatu wilayah yang luas membentang dari Spanyol di Eropa, Afrika Utara, hingga ke timur India, pada masa Dinasti Abbasiyah mulai tumbuh dinasti saingan yang melepaskan diri dari kekuasaan khlifah di Baghdad, yang di mulai dengan terbentuknya Dinasti Umawiyah II di Spanyol, sehinnga kekuasaan kekhalifahan terpecah menjdi dua bagian, yaitu Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad dan Dinasti Umawiyah II yang berpusat di Andalusia, Spanyol.
























BAB III. KESIMPULAN

            Dinasti-dinasti kecil di timur Baghjdad berdiri untuk memisahkan diri dari Baghdad. Dihadapan para khalifah seakan-akan mereka memiliki loyalitas kepada Baghdad, namun sesungguhnya secara teritorial, militer, ekonomi, dan politik mereka memiliki kekuasaan independent. Dinasti-dinasti ini menandai kelemahan kekuasaan yang terjadi di pusat, karena seabad setelah didirikannya dinasti Abbasiyah (750-1258 M / 132-656 H) terlihat nasib khalifah banyak ditentukan oleh panglima-panglima tentara. Erosi kekuasaan riil Abbasiyah semakin meningkat dengan kemunculan penguasa-penguasa politik otonom (para sultan) di hamper seluruh kawasan kekuasaan kholifah.
            Dinasti-dinasti kecil seperti Thahiriyah (sekitar 54 tahun), Shaffariyah (kurang lebih 36 tahun) serta Samaniyah (selama 128 tahun) sedikit banyaknya jelas berpengaruh pada Baghdad. Mereka secara sunnatullah silih berganti dalam memperebutkan supremasi kekuatan politik yang kemudian diantara sisi positif dari peran yang dimainkannya ialah mampu melahirkan peradaban yang tidak kalah dari Baghdad. Akan tetapi untuk masa depan dinasti Abbasiyah sendiri keadaan demikian sangat membahayakan dan merugikan.

BAB IV. PENUTUP

Demikianlah uraian singkat makalah tentang Dinasti-Dinasti Kecil Di Timur Baghdad. Tulisan ini masih sangat terbatas dan memerlukan tambahan guna memperluas wawasan kita. Oleh karena kami sebagai penulis sangat mengharapkan bantuan, kritik, dan saran, serta bimbingan-nya kepada bapak dosen pengampu mata kuliah Sejarah Kebudayaan Islam.

















DAFTAR PUSTAKA
-  Dr. Yatim badri, M.A. Dirasah Islamiyah II.Jakarta RajaGrafindo Persada, 2008. hal. 65
-  Dedi Supriyadi, M.Ag, Sejarah Peradaban Islam. Bandung Pustaka Setia, 2008. hal. 143-154




























[1] Philip K. Hitti. History of the arab, London: The Macmillan Press LTD, 1974, hlm. 632
[2] J.J. Saunder. A History Of Mediveal Islam. London: Rotledge and Kegan Paul, 1965, hlm. 117
[3] Syed Mahmudunnaseer. Islam Its Consept and History. New Delhi; Kitab Bavhan, 198, hlm. 200. Thesis Mahmudunnaseer ini berdasarkan pada adanya persaingan antara Al-Amin dan Al-Ma’mun, keduanya adalah putra khalifah Harun Ar-Rasyid, dan ternyata Al-Ma’mun menang dan mendapat dukungan dari masyarakat persia, karena mereka menganggap Ma’mun lebih dekat dengan rakyat dan ibunya pun seorang selir Harun Ar-Rasyid dari keturunan persia.
[4] Zaenal Abidin Ahmad, Sejarah Islam dan Ummatnya Sampai Sekarang, Jakarta: Bulan Bintang, 1978, hal. 112
[5] Ahmad Amin, Islam dari Masa ke Masa, Bandung: Rosda, 1987, hal.116
[6] Op Cit, hal. 461
[7] Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulah Abbasiyah II , Jakarta: Bulan Bintang, 1977, hal. 60
[8] Syauqi Dhaif, Tarikh al-Adab al-‘Arabi Juz 5 : ‘Ash al Daulah wa al-Imarat, Kairo: Dar al- Maarif, hal. 471
[9]   Ibid, hlm. 279
[10] Hasan Ahmad Mahmud & Ahmad Ibrahim Syarif, op. Cit. Hlm. 455.
[11] Muhamad Ali Haidir. Ad-Dawailiyah Al- Masyriq. Al-Qahirah: Alam Al-Kutub, 1972, hlm 17
[12] Kejayaan Islam, hal.105
[13] Hasan Ahmad Mahmud & Ahmad Ibrahim Syarif, op. Cit. Hlm. 456.
[14] Ibnu Al-Atsir, op. Cit., hlm. 457
[15] Ibid, hlm. 463
[16] Ibid
[17] Boswort. Dynasties. 1986, hlm. 116
[18] Ibn Al-Atsir, op. Cit, hlm. 116
[19] Boswort. Op. Cit, hlm. 146
[20] Ibid
[21] Brockelmann. History Of The Islamic People. London: Rotledge And Kegan Paul, 1980, hlm. 165
[22] Philip K. Hitti, Ibid, hlm 462.
[23] Ibid.
[24] History of Arabs, hal. 462
[25] Tarikh al-Islami, hal. 74
[26] Ibid,  hal. 71
[27] Hasan Ahmad Mahmud, op. Cit, hlm. 334
[28] Ibid, hlm. 463
[29] History of The Arab, hal. 462-463 dan Tarikh al-Islami, hal 82
[30] Ibid, hlm. 463